Malam itu saya sedang dalam perjalanan pulang dari rumah kawan saat melihatnya duduk tertidur di bawah sebatang pohon di tepi jalan. Di depannya tergeletak bungkusan-bungkusan kerupuk. Di sekitarnya tampak sepi, kecuali kendaraan-kendaraan yang lewat di jalan itu. Dia masih sangat belia, kemungkinan belum 15 tahun umurnya. Tampak di wajahnya gurat-gurat kelelahan.
Mungkin dia kelelahan dan butuh tumpangan, pikir saya. Saya pun memutar balik sepeda motor saya untuk mendekatinya. Sejenak saya amati dulu dirinya dan situasi sekitarnya dari seberang jalan. Banyak kendaraan yang berjalan melewatinya dan tidak mempedulikannya. Ketika ada mobil yang sedang parkir di seberang jalan dan cahaya lampunya menyoroti wajahnya, dia pun terbangun.
Saya pun segera mendekatinya, dan bertanya dalam bahasa Sunda karena yakin bahwa dia adalah orang Sunda.
"Mau ke mana, dik?"
"Sedang berjualan di sini, pak."
"Kok berjualan di tempat sepi begini? Sendiri?" tanya saya lagi.
"Iya pak, mencoba saja," jawabnya. "Tadinya saya mau berjualan di pasar malam yang dekat kantor Pemkot. Tapi diganggu oleh anak-anak nakal di sana, dipaksa main, dan diancam. Daripada uang saya hilang, ya lebih baik saya pindah ke sini."
"Adik rumahnya di mana?"
"Di Cililin," jawabnya. Cililin adalah salah satu kecamatan di kabupaten Bandung Barat. Dari Cimahi jaraknya lumayan jauh.
"Berangkat ke sini dengan siapa? Pulangnya bagaimana?" tanya saya lagi.
"Sendiri saja. Nanti pulang juga sendiri, biasanya jam 11 malam. Paling, jalan kaki dari sini ke alun-alun Cimahi, dari situ naik minibus."
"Berangkat dari rumah jam berapa?"
"Pagi, pak"
"Setiap hari berjualan begini?"
"Iya pak."
"Lho, tidak sekolah?" saya mulai menyelidik.
"Ya tidak. Saya hanya sempat sekolah sampai kelas 1 SD."
Dan dia pun bercerita, bahwa sejak kecil sering diajak berpindah-pindah tempat oleh ayahnya, sehingga tidak dapat melanjutkan sekolahnya. Subhanallah.... Anak yang masih sangat belia ini harus berkorban demi keluarganya, mencari sesuap nasi, dan mengorbankan masa depannya sendiri.
"Ini kerupuk berapa harganya? tanya saya.
"Sepulu ribu dapat empat, pak," jawabnya.
"Saya beli empat," kata saya. Sambil menyerahkan uang sepuluh ribu rupiah dan mengambil 4 bungkus kerupuk. Lalu saya berkata lagi kepadanya sambil menyerahkan sejumlah uang lainnya, "Dan ini untuk shadaqah saya. Diterima ya?"
Agak ragu ia menerima pemberian saya. Tak lama kemudian ada pengendara sepeda motor yang berhenti dan membeli 2 bungkus kerupuk. Lalu sepasang suami-istri pengendara sepeda motor yang berhenti dan menanyakan kondisi si anak. Setelah saya jawab bahwa anak itu berjualan kerupuk di sini, maka mereka menyerahkan plastik keresek berisi nasi dengan lauk-pauknya kepada si anak. Kasihan, komentarnya kepada saya.
Saya pun bersiap pergi meninggalkannya. Masih sempat saya bertanya kepadanya, "Siapa namanya, dik?"
"Iin, pak."
"Ini kerupuk mengambil dari mana?
"Ini nenek saya di Cililin yang membuatnya. Saya menjualkannya, biasanya di seputar Cimahi saja."
Saya pun pulang ke rumah. Hanya setengah jam di rumah, saya pergi lagi karena ada urusan ke rumah kawan yang lain. Dan saya berjalan melalui jalan yang tadi. Dan saya melihatnya lagi. Ya, melihat Iin si bocah penjual kerupuk itu. Tapi posisinya saat ini dalam posisi berbaring terlentang. Tanpa selimut, hanya beralaskan tanah.
Masih sempat saya melihat seorang ibu-ibu yang membangunkannya untuk membeli kerupuknya. Saya yakin, mereka yang membeli kerupuk dari Iin bukan semata-mata ingin menikmati kerupuknya, tapi lebih didorong oleh rasa iba melihat kondisi Iin yang seperti itu.
Nah, saya mengimbau, bagi yang melihat atau bertemu dengan Iin dengan membawa kerupuknya, belilah kerupuknya, dan berikan kepadanya uang yang lebih dari harga kerupuk yang anda ambil. Semoga menjadi amal shalih bagi anda, dan membantu keluarga Iin. Atau bagi yang mampu, tidak ada salahnya untuk membiayainya bersekolah atau mengikuti program Paket A (setara SD) dan Paket B (setara SMP).
Selama berinteraksi dengannya yang hanya beberapa menit itu saya bisa memberikan penilaian bahwa dia anak yang jujur, baik, dan bertanggung jawab. Bahasa Sundanya halus dan sopan, tidak menggambarkan bahwa dia hanya sempat mengenyam pendidikan hingga kelas 1 SD saja.
Sepanjang malam itu saya merenung.... mungkin banyak juga Iin-Iin yang lain. Anak-anak miskin yang bernasib sama seperti Iin penjual kerupuk itu. Tentunya menjadi tanggung jawab kita untuk membantunya semampu kita.
(Cimahi, Bandung, 27 Agustus 2015)
Jumat, Agustus 28, 2015
Kamis, Agustus 27, 2015
Butuh Hewan Qurban?
Bismillahirrahmanirrahim
Assalamu 'alaikum Wr. Wb.
Bagi bapak / ibu / saudara yang membutuhkan hewan qurban tahun ini, kami menawarkan hewan qurban sapi dan domba murah, sehat, dan sesuai syari’at. Lokasi kandang berada di Dawuan, Subang, Jawa Barat. Harga saat ini lihat di brosur.
Ini adalah hewan qurban yang ditawarkan oleh SMK Peternakan Juara, Subang. Sekolah ini menggratiskan biaya pendidikan bagi para siswanya yang kebanyakan terdiri dari anak dari keluarga kurang mampu, dan mendapatkan bantuan dana operasional dari Majelis Ta’lim Karyawan PT Telkom (MTT). Jadi membeli hewan qurban di sini berarti sekaligus membantu sekolah. Semoga menjadi amal jariyah kita.
Sekolah yang digagas oleh RZ Indonesia ini, saat ini memiliki sekitar 70 orang siswa, dari kelas 10 sampai kelas 12, dan berlokasi di Kecamatan Kasomalang, Kabupaten Subang, Jawa Barat.
Assalamu 'alaikum Wr. Wb.
Bagi bapak / ibu / saudara yang membutuhkan hewan qurban tahun ini, kami menawarkan hewan qurban sapi dan domba murah, sehat, dan sesuai syari’at. Lokasi kandang berada di Dawuan, Subang, Jawa Barat. Harga saat ini lihat di brosur.
Ini adalah hewan qurban yang ditawarkan oleh SMK Peternakan Juara, Subang. Sekolah ini menggratiskan biaya pendidikan bagi para siswanya yang kebanyakan terdiri dari anak dari keluarga kurang mampu, dan mendapatkan bantuan dana operasional dari Majelis Ta’lim Karyawan PT Telkom (MTT). Jadi membeli hewan qurban di sini berarti sekaligus membantu sekolah. Semoga menjadi amal jariyah kita.
Sekolah yang digagas oleh RZ Indonesia ini, saat ini memiliki sekitar 70 orang siswa, dari kelas 10 sampai kelas 12, dan berlokasi di Kecamatan Kasomalang, Kabupaten Subang, Jawa Barat.
Langganan:
Postingan (Atom)




